rsjostrom

Ryan Sjostrom Sjostrom itibaren Ozeretskoye, Tverskaya oblast', Rusya, 170554 itibaren Ozeretskoye, Tverskaya oblast', Rusya, 170554

Okuyucu Ryan Sjostrom Sjostrom itibaren Ozeretskoye, Tverskaya oblast', Rusya, 170554

Ryan Sjostrom Sjostrom itibaren Ozeretskoye, Tverskaya oblast', Rusya, 170554

rsjostrom

Yazar tarafından okuyun! Dick Cavett bize klasik talk show'u, renkli konuklarını ve sıcak ve çok kuru zekasını hatırlatıyor. Gösteri yayınlandığında çok gençtim ve kesinlikle hiçbir TIVO'm yoktu ama altmışları yeniden yaşayabiliyor ve Dick Cavett'in bu anekdotları üzerinden birkaç şovuna oturabiliyordum.

rsjostrom

Buku ini membuat aku tahu bahwa Afghanistan tidak selalu seperti gambaran yang dituturkan dalam kisah epik tulisan Helvi Tiana Rossa, yang dulu kubaca di Majalah Annida dan Ummi, yang penduduknya sangat religius dan bersemangat jihad tinggi. Kisah sederhana tentang sebagian kecil penduduk Afghan yang ditampilkan penulis asal Afghanistan yang tinggal di Amerika itu memberikan gambaran lain tentang kehidupan sebagian masyarakat dan anak-anak Afghan ketika perang belum berkecamuk di negeri itu. Bahwa mereka adalah manusia yang sama dengan manusia mana pun di berbagai belahan dunia. Buku ini bercerita tentang Amir, keinginannya untuk mendapatkan perhatian lebih dari sang ayah, egonya, sifat pengecutnya dan usahanya untuk melawan sifat itu. Tampak seperti kisah biasa memang dan dituturkan secara sederhana, tanpa kata-kata sulit dan bahasa filosofis yang susah dipahami. Tapi justru itu yang membuatku tertarik dan tersentuh. Bab awal buku bercerita tentang persahabatan seorang anak Afghan kaya dari suku Pashtun (kebanyakan penganut sunni--red) bernama Amir dan anak pelayannya, Hassan yang berasal dari suku Hazzara (kebanyakan penganut syiah--red). Ini adalah suku bangsa Afghan keturunan Mongolia yang bermuka bulat dan bermata sipit. Tentang bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan melempari orang lewat dari atas pohon dengan ketapel hingga mendapat teguran dari ayah Hassan. Tentang bagaimana Amir membacakan buku cerita kepahlawanan Afghan kepada Hassan yang buta huruf. Tentang bagaimana mereka menghabiskan siang musim dingin dengan bermain layang-layang. Konflik dimasukkan secara halus tapi mendalam. Itu bermula ketika Hassan hendak mengejar layang-layang untuk Amir usai kemenangannya dalam kompetisi layang-layang, "Untuk yang keseribu kalinya Amir Agha!" Demikian kata Hassan setiap kali hendak mengejar layang-layang untuk sahabat dan majikannya itu. Pengejaran itu berakhir menyedihkan. Bukan karena Hassan gagal, karena ia adalah pengejar layang-layang yang andal. Tapi karena Asef dan kedua teman laki-lakinya. Anak Pashtun kaya pengagum Hitler yang kejam dan sinis itu menemukan Hassan dengan layang-layang biru itu. Ia mengancam Hassan dengan tangan terbungkus buku besi. Dan bukan hanya menganiaya, mereka juga melakukan sesuatu yang tidak akan dilupakan oleh Hassan dan Amir. Dan Amir hanya bisa melihatnya dari semak-semak, tak melakukan apapun meski sebenarnya ia ingin. Dia tidak mau ambil resiko dan akhirnya harus menanggung penyesalan itu selama lebih dari 20 tahun. Itu adalah awal dari semua kebohongannya yang kemudian memisahkan dia dengan Hassan, teman yang sangat disayanginya. Dan ketika kembali ke Afghanistan 20 tahun kemudian ia tahu bahwa ia tak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki yang ternyata adalah saudara tirinya itu. Tentara taliban telah menembak kepalanya dari belakang. Satu-satunya penyambungnya dengan Hassan adalah Sohrab, putra Hassan yang belum dia ketahui keberadaannya. Dan ternyata Sohrab bukan hanya penyambung, ia juga adalah penebus dosa dan jalan kembalinya menuju kebaikan. Namun menemukan Sohrab ditengah kondisi Afghanistan yang kacau dan tegang bukan hal yang mudah. Amir harus berjuang, menghadapi tentara taliban dan dirinya sendiri. Saat akhirnya ia menemukan anak itu pun ia masih harus berjuang karena Sohrab tidak seperti anak-anak biasa lainnya. Ia melihat kedua orang tuanya di tembak didepan matanya. Ia pernah tinggal di rumah yatim piatu yang kondisinya menyedihkan. Ia pernah dijual kepada pejabat taliban yang pedofil dan harus hidup dengannya selama beberapa tahun. Ia sering dan bahkan terlalu sering melihat pembunuhan dan penyiksaan. Dunia terlalu sering membuatnya kecewa. Semua itu membuatnya diam. Amir butuh waktu satu tahun untuk melihatnya tersenyum. Hanya seberkas senyum. Ceritanya sangat menyentuh dan mengharukan. Sampai sekarang, ini termasuk buku terbagus yang pernah kubaca...